Pengendalian Emosi dan Energi pada Tubuh

Pengendalian Emosi dan Energi pada Tubuh

Pengendalian emosi dapat menyimpan energi yang terbuang sia-sia. Konsep paling populer tentang pengendalian emosi (emotional control) menitikberatkan pada penekanan reaksi-yang-tampak terhadap rangsangan yang menimbulkan emosi. Menurut konsep ini, seseorang yang telah dibangkitkan kemarahannya akan melumpuhkan emosi tersebut: dan dengan melakukan hal itu ia akan menampakkan gambaran emosi yang tenang. Emosi yang dilumpuhkan adalah emosi yang biasanya menyertai kemarahan, antara lain yang tampak dalam wujud ekspresi wajah, tubuh, atau kata-kata.

Semakin berhasil seseorang menekan ekspresi yang tampak ini orang itu dinilai semakin baik pengendalian emosinya. Konsep ilmiah tentang pengendalian emosi sangat berbeda dari konsep yang populer tersebut. Dengan menggunakan kata “‘control” seperti yang didefinisikan pada setiap kamus standar yang berarti “berusaha sekuat-kuatnya mengendalikan atau mengarahkan pengaruh terhadap sesuatu”, maka konsep ilmiah tentang pengendalian emosi berarti mengarahkan energi emosi ke saluran ekspresi yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial. Memang, konsep ilmiah menitikberatkan pada pengendalian, tetapi hal itu tidak sama artinya dengan penekanan.

Emosi dan energi

Apabila orang mengendalikan ekspresi emosi yang tampak, mereka juga berusaha mengalihkan energi yang ditimbulkan oleh tubuh mereka menjadi persiapan untuk bertindak ke arah pola perilaku yang bermanfaat dan dapat diterima Secara sosial. Hal ini sangat berbeda dari konsep populer, yang mengharuskan penekanan energi emosional di dalam diri mereka. Untuk mencapai pengendalian emosi dalam artian yang ilmiah, individu harus memberikan perhatian pada aspek mental dari emosi sebanyak perhatian pada aspek fisik. Sekedar mengekspresikan emosi dalam bentuk yang dapat diterima secara sosial tidaklah cukup. Aspek mental dari emosi juga memerlukan bimbingan. Kalau tidak, keadaan emosional itu akan menyala terus dan menyebabkan seseorang bereaksi emosional terhadap rangsangan yang muncul kemudian. Akibatnya, atas kemauannya sendiri, orang itu tidak akan sanggup membangkitkan reaksi emosi yang baru.

 baca juga : Katarsis Emosi Apa Makna Sesungguhnya?

Sebagai Contoh, meskipun seseorang telah menemukan cara ekspresi yang dapat diterima secara sosial, hal itu tidak menjamin bahwa ia tidak akan marah lagi. Jika ia masih juga berpikir tentang sebab kemarahannya, ia akan menjadi semakin marah dan – semakin yakin bahwa kemarahannya dapat dibemarkan. Oleh karena itu, jelas bahwa di samping harus belajar bagaimana cara menangani rangsangan yang membangkitkan emosi. Anak-anak juga harus belajar bagaimana cara mengatasi reaksi yang biasanya menyertai emosi tersebut. Untuk dapat melakukan hal ini, anak harus mampu menilai rangsangan tersebut. Mereka juga harus dapat menentukan apakah reaksi emosi yang akan ia lakukan dapat dibenarkan atau tidak.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *