Postingan ini membahas tentang Teori Konstruktivisme Pertumbuhan dan Perkembangan. Materi ini di ambil dari buku Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini yang di tulis oleh Dr. Yuliani Nurani Sujiono, M.Pd
Teori Konstruktivisme
Semiawan (2002:3-4) berpendapat bahwa pendekatan konstruktivisme bertolak dari suatu keyakinan bahwa belajar adalah membangun (to construct) pengetahuan itu sendiri, setelah dicernakan dan kemudian dipahami dalam diri individu, dan merupakan perbuatan dari dalam diri seseorang. Dalam perbuatan belajar seperti itu bukan apanya atau isi pembelajarannya yang penting, melainkan bagaimana mempergunakan peralatan mental untuk menguasai apa yang dipelajari (Semiawan, 2002:3-4). Pengetahuan itu diciptakan kembali dan dibangun dari dalam diri seseorang melalui pengamatan, pengalaman dan pemahamannya.
Merujuk pada Woolfolk (2007:41-43) Piaget menganggap bahwa pengetahuan itu merupakan sesuatu yang dibangun secara personal, sedangkan Vygotsky memandang bahwa kognisi itu merupakan suatu fenomena sosial atau sesuatu yang dibangun secara sosial. Pengalaman sosial membentuk cara berpikir dan cara menginterpretasikan lingkungan. Jadi, berpikir tidak hanya dibatasi oleh otak individu semata, tetapi juga dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran orang lain. Implikasi dari teori pengetahuan yang dikemukakan oleh Piaget dalam Foreman dan Kuschner (1993:50-51) menjelaskan bahwa otak manusia tahu bagaimana cara mengenali benda melalui input dari indera seperti mata, telinga, kulit, hidung dan mulut yang secara langsung akan menunjukan reaksi tertentu terhadap lingkungan sekitar. Sebagai bukti, seorang anak tidak akan pernah tahu bahwa rasa gula manis tanpa mencicipinya terlebih dahulu dengan menggunakan lidah sebagai alat sensor rasa.
Pandangan Piaget
Piaget dalam Essa (2011:134-136), menyatakan bahwa perkembangan kognitif terjadi ketika anak sudah membangun pengetahuan melalui eksplorasi aktif dan penyelidikan pada lingkungan fisik dan sosial di lingkungan sekitar. Sehubungan dengan hal tersebut terdapat dua teori yang dikemukakan oleh Piaget. Yaitu asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi terjadi ketika seorang anak menerima konsep, keterampilan dan informasi yang diperolah dari pengalaman mereka dengan lingkungan. Dalam rangka mengembangkan pola atau skema pemahaman; sedangkan proses akomodasi terjadi ketika skema mental harus diubah untuk meyesuaikan dengan konsep, keterampilan dan informasi baru.
Lev Vygotsky dikenal sebagai a socialcultural constructivist berpendapat bahwa pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dialihkan dari orang lain. Melainkan merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak (Brodova dan Leong, 1996:23). Vygotsky yakin bahwa belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dipaksa dari luar. Karena anak adalah pembelajar aktif dan memiliki struktur psikologis yang mengendalikan perilaku belajarnya (Brodova dan Leong, 1996:26).
baca juga : Teori Pengaruh (Influences Theoretical)