Pola perkembangan emosi pada anak dimulai sejak hari pertama kehidupannya. Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir. Gejala pertama perilaku emosional ialah keterangsangan umum terhadap stimulasi yang kuat. Keterangsangan yang berlebih-lebihan ini tercermin dalam aktivitas yang banyak pada bayi yang baru lahir. Meskipun demikian, pada saat lahir, bayi tidak memperlihatkan reaksi yang secara jelas dapat dinyatakan sebagai keadaan emosional yang spesifik (9, 64,79). Seringkali sebelum lewatnya periode neonate, keterangsangan umum pada bayi yang baru lahir dapat dibedakan menjadi reaksi yang sederhana yang mengesankan tentang kesenangan dan ketidaksenangan.
Reaksi yang tidak menyenangkan dapat diperoleh dengan cara mengubah posisi secara tiba-tiba. Sekonyong-konyong membuat suara keras, merintangi gerakan bayi, membiarkan bayi tetap mengenakan popok yang basah, dan menempelkan sesuatu yang dingin pada kulitnya juga termasuk. Rangsangan semacam itu menyebabkan timbulnya tangisan dan aktivitas besar. Sebaliknya, reaksi tatkala bayi yang menyenangkan tampak jelas tatkala bayi menetek. Reaksi semacam itu juga dapat diperoleh dengan cara mengayun-ayunkannya, menepuk-nepuknya, memberikannya kehangatan, dan memdopongnya dengan mesra.
Rasa senang pada bayi dapat terlihat dari relaksasi yang menyeluruh pada tubuhnya, dan dari suara yang menyenangkan berupa mendekut dan mendeguk. Bahkan sebelum bayi berusia satu tahun, ekspresi emosional diketahui serupa dengan ekspresi pada orang dewasa. Lebih jauh lagi, bayi menun-jukkan berbagai macam reaksi emosional yang semakin banyak antara lain kegembiraan, ke-marahan, ketakutan, dan kebahagiaan. Reaksi ini dapat ditimbulkan dengan cara memberikan berbagai macam rangsangan. Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional mereka menjadi. Kurang menyebar, kurang sembarangan, dan lebih dapat dibedakan. Sebagai contoh, anak yang lebih muda memperlihatkan ketidaksenangan semata-mata hanya dengan menjerit dan menangis. Kemudian reaksi mereka semakin bertambah yang meliputi perlawanan, me-lemparkan benda, mengejangkan tubuh, lari meng-hindar,bersembunyi, dan mengeluarkan kata-kata.
Usia dan emosi
Dengan bertambahnya umur, maka reaksi yang berwujud bahasa meningkat, sedangkan reaksi gerak otot berkurang. Bukan hanya pola emosi umum yang mengikuti alur yang dapat diramalkan, tetapi pola dari berbagai macam emosi juga dapat diramal kan. Sebagai contoh, reaksi ledakan marah (tempertantrums)mencapai puncaknya pada usia antara 2 dan 4 ta-hun dan kemudian diganti dengan pola ekspresi kemarahan yang lebih matang, seperti cemberut dan sikap bengal.
baca juga : Bahasa dan Pemahaman Emosi Kanak-kanak