Oleh Yubariku Fika
Pada proses pembelajaran, diperlukan teknik yang tepat dalam menyajikan bahan ajar agar anak lebih tertarik, aktif, dan termotivasi dalam belajar berbicara. Fakta menunjukkan bahwa para guru masih mengalami kesulitan dalam menerapkan teknik dan strategi pembelajaran di kelas. Salah satu strategi yang diterapkan pada penelitian ini adalah permainan komunikatif yang dapat mendorong anak untuk berbicara dengan menggunakan pengetahuan yang dimiliki. Dalam permainan komunikatif anak juga dapat belajar secara langsung dengan melihat dan mencontoh guru atau temannya yang lain. Permainan komunikatif memiliki kelebihan dibanding pembelajaran yang monoton atau konvensional, dimana anak mendapatkan pengalaman langsung tentang bahasa-bahasa baru (Irawati, 2014: 33-34).
Bermain peran membuat anak dapat berimajinasi dengan membayangkan dirinya di masa depan dan mengulang kembali pengalaman yang pernah terjadi di masa lalu. Gilstrap dan Martin dalam Moore (2005: 271) mengatakan bahwa bermain peran sebagai sebuah aktivitas rekreasi peristiwa sejarah, masa depan, saat ini, atau situasi imaginatif. Pesertanya berusaha mencoba untuk menjadi individu yang berbeda, dan berusaha mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang individu yang mereka perankan tersebut.
Menurut Hurlock (2001: 329) bermain peran merupakan bermain aktif melalui perilaku dan bahasa serta berhubungan dengan situasi. Anak-anak bermain dalam berpura-pura dan menirukan pengalaman yang di dapat dalam dunia nyatanya. Dalam kegiatan bermain di sentra main peran anak dapat mengembangakan kemampuannya bersosialisasi, mengikuti prosedur, bereksperimen dan berbahasa.
Llieva mengungkapkan arti dari bermain peran dalam jurnalnya bahwa “Role-playing games involve collaboration between players through face-to-face social activity, relying on direct and synchronous communication. In tabletop role-playing games, the interaction is mostly verbal, and the prevalent communication tool is natural oral language” (Llieva, 2008: 27).
Pernyataan di atas dapat diartikan bahwa bermain peran melibatkan kolaborasi antara pemain melalui aktivitas sosial tatap muka, dengan mengandalkan komunikasi langsung dan sinkron. Dalam bermain peran, interaksi antar anak sebagian besar bersifat verbal. Dodge (2001: 44) berpendapat “the fourth of type of play is dramatic play or, when it involves several children interacting in a pretend episode, socio-dramatic play. In this type of play, children take on a role pretend to be someone else, and use real or pretend object to play out the role.”
Tipe keempat dari bermain adalah bermain peran atau permainan yang melibatkan beberapa anak untuk berinteraksi dan berpura-pura dalam waktu tertentu. Dalam jenis permainan ini, anak-anak mengambil peran, berpura-pura menjadi orang lain seperti menjadi ibu yang memasak, ibu guru, bisa juga menggunakan peran sesungguhnya menjadi diri anak itu sendiri atau berpura-pura menjadi objek tertentu untuk bermain di luar peran seperti dalam cerita si kancil anak bisa berperan menjadi kancil. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bermain peran adalah kegiatan bermain aktif yang membebaskan anak untuk mengekspresikan peran yang diinginkannya melalui pengalaman pribadi yang dialami oleh anak atau dengan menggabungkan arahan dari guru dengan pengalaman yang dimiliki oleh anak.
Sumber : https://obsesi.or.id/index.php/obsesi/article/view/229