OLeh : Sutji Hartiningsih
Endraswara dalam Tradisi Lisan Jawa (2005:99) menjelaskan bahwa lagu dolanan anak adalah lagu yang dinyanyikan sambil bermain-main, atau lagu yang dinyanyikan dalam permainan tertentu. Lagu permainan ini bernuansa folklor.
Pada dasarnya lagu dolanan anak Jawa bersifat unik. Artinya, berbeda dengan bentuk lagu atau tembang Jawa lainnya. Menurut Danandjaja (1984:19) lagu dolanan anak ada yang termasuk lisan Jawa, yaitu tergolong nyanyian rakyat. Ciri penting foklor terkait dengan lagu dolanan anak adalah (1) bahasanya sederhana, (2) menggunakan cengkok—cara melagukan suatu tembang berdasarkan titi nada atau titilaras tertentu—sederhana, (3) jumlah baris terbatas, (4) berisi hal-hal yang selaras dengan keadaan anak, dan memuat hal-hal yang menghibur dan kebersamaan (Endraswara, 2005:101).
Sebagai puisi atau lagu, lagu dolanan anak memiliki bangun struktur. Bangun struktur lagu dolanan anak tidak berbeda dengan bangun struktur puisi pada umumnya. Yang dimaksud bangun puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual. Unsur tersebut akan meliputi unsur bunyi, kata, baris, bait, dan tipografi. Waluyo (1987:71) menjelaskan bahwa unsurunsur bentuk atau struktur fisik puisi dapat diuraikan dalam metode puisi, yakni unsur estetika yang membangun struktur luar puisi. Unsur-unsur itu adalah diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figurasi atau majas, versifikasi, dan tata wajah puisi. Selanjutnya, unsur-unsur itu pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang utuh dan dalam pembahasan tembang dolanan, metode puisi yang dikemukakan dalam bagian ini diaplikasikan sebagai landasan teori untuk membahas bentuk lagu dolanan anak.
Lagu dolanan anak Jawa sebagai wujud sastra anak di samping dapat dilihat dari bentuknya, dapat juga dilihat dari fungsinya. Terkait dengan hal itu, maka sastra lisan anak tergolong dalam folklor anak. Berkenaan dengan fungsi tembang dolanan anak Jawa, disinggung teori fungsi menurut Sudikan (2001: 109) sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh W.R. Bascom, Alan Dundes, dan Ruth Finegan. Menurut Bascom, sastra lisan mempunyai empat fungsi, yaitu sebagai bentuk hiburan, alat pengesahan pranata dan lembaga kebudayaan, alat pendidikan anak-anak, dan sebagai alat pemakai dan pengawas agar norma-norma masyarakat dipatuhi oleh kolektifnya.
Selanjutnya, fungsi folklor menurut Alan Dundes adalah membantu pendidikan anak muda, meningkatkan perasaan solidaritas kelompok, memberi bukti sosial agar seseorang berperilaku baik, menjadi sarana kritik sosial, memberikan suatu pelarian yang menyenangkan dari kenyataan, dan mengubah pekerjaan yang membosankan menjadi menyenangkan. Sementara itu, Finegan membedakan dua masyarakat, yakni masyarakat primitif (nonideal) dan masyarakat modern (industrial).
Kadarisman (2009:52) mengemukakan fungsi puitis berfokus pada bahasa itu sendiri atau menonjolkan bentuk bahasa dengan dampak estetis. Terkait dengan itu, sastra anak berfungsi untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak termasuk pendidikan kepribadian, pembentukan karakter dan pengembangan nilai-nilai pendidikan.
Lagu dolanan anak tradisional sangat dikenal di kalangan anak-anak pada masa tahun 80-an. Hal tersebut disebabkan anak-anak memiliki waktu luang dan tempat untuk bermain untuk bernyanyi bersama-sama.
Anak-anak pada masa tahun tersebut banyak memiliki waktu luang sepulang sekolah karena belum disibukkan dengan kegiatan dan les berbagai mata pelajaran seperti sekarang ini, serta juga memiliki fasilitas tempat yang luas, misalnya di lapangan atau halaman rumah.
Di samping itu, anak-anak pada masa itu belum memiliki permainan yang beraneka ragam seperti sekarang ini, sehingga anak-anak bermain dengan fasilitas yang ada di sekitar mereka. Kebanyakan anak-anak bermain secara bersama-sama berkumpul di tengah lapangan saat bulan purnama bersinar, mereka melakukan aneka permainan, ada yang berlarian, ada yang main petak umpet, ada juga yang melakukan permainan dolanan, serta ada yang menyanyikan lagu-lagu dolanan anak.
Deskripsi Lirik atau Syair Lagu Dolanan Anak Pendidikan sangat penting dalam menentukan perkembangan dan perwujudan diri individu, khususnya bagi perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara.
Dengan mengenali, menghargai, dan memanfaatkan sumber daya manusia yang terdapat dalam anggota masyarakat, maka hal ini akan menentukan kemajuan suatu budaya. Untuk dapat mencapai pendidikan melalui lirik atau syair lagu dolanan anak tradisional, dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan.
Disebutkan dalam Higher Education Long Term Strategy 2003—2010, bahwa seni yang berakar dari tradisi dan budaya lokal, merupakan faktor krisis dalam pengembangan karakter bangsa, serta pengembangan individu yang kreatif dan inovatif.
Dengan pernyataan itu, maka lagu dolanan anak tradisional sangat mungkin untuk diterapkan dalam pendidikan karena merupakan tradisi lokal. Lagu dolanan anak memiliki manfaat yang positif dalam pembentukan karakter anak dikemudian hari.
Pembentukan karakter merupakan bagian penting dalam dunia pendidikan saat ini. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut pendidikan karakter seharusnya diberikan kepada anak-anak sedini mungkin. Sejalan dengan itu, Kartini (2014) berpendapat bahwa jika sejak dini anak diperkenalkan dengan tembang dolanan yang berisi petuah, pendidkan moral, dan budi pekerti, maka kelak jika sudah dewasa akan berakhlak baik.
Salah satu cara untuk membentuk karakter anakanak adalah dengan cara memperkenalkan lagu-lagu yang bermuatan nilai-nilai positif. Hal ini disebabkan di dalam lagu dolanan anak tersebut terkandung beberapa nilai pendidikan, di antaranya menanamkan nilai sosial, nilai sejarah, nilai kejujuran, sportivitas, menghargai orang lain, pembentukan fisik, dan lain sebagainya.
Lagu dolanan anak dapat dikelompokkan menjadi tiga. Apabila dikaitkan dengan pembagian tujuan pendidikan, Bloom (1956) membagi tujuan pendidikan menjadi tiga ranah yaitu knowledge (kognitif), affective (afektif), dan psychomotor (psikomotor).
Aspek Kognitif dalam Lagu Dolanan Anak Pada kelompok pertama, isi syairnya memberikan wawasan dan pengetahuan kepada anak-anak meliputi binatang, tumbuh-tumbuhan, kehidupan, dan alam sekitarnya. Jika dikaitkan dengan teori pendidikan, maka lagu-lagu ini dapat dimasukkan dalam ranah pengetahuan (knowledge).
Dengan demikian melalui lagu dolanan, anak dapat memahami tentang kehidupan alam dan lingkungan di sekitarnya. Contoh pada lirik atau syair lagu ” Duwe Tangan Loro”. Bahasa Jawa Bahasa Indonesia Aku duwe tangan loro Kiwa karo tengen Aku bisa malang kerik Keplok lan ngedhaplang Aku punya tangan dua kiri dan kanan aku bisa berkecak pinggang tepuk tangan dan merentang tangan Yen aku arep maem Wijik dhisik tanganku Supaya ora klebon Wiji lara ngelu Kalau aku akan makan Mencuci tanganku lebih dulu Agar tidak kemasukan bibit penyakit Syair lagu di atas, bermuatan edukatif.
Di awal bait menjelaskan tentang anggota badan, yakni mempunyai tangan dua, tangan kiri dan tangan bisa berkecak pinggang, tepuk tangan dan sebagainya, serta pada bait berikutnya mengajarkan bagaimana menjaga anggota badan, menjaga kebersihan, agar tidak terkena penyakit. Lagu ini berisi tentang pengetahuan termasuk dalam kelompok kognitif Aspek Afektif dalam Lagu Dolanan Anak Kelompok kedua, isi syairnya memuat nilai pendidikan, lebih menanamkan sikap anak, karena syair lagunya berisi mengenai nasihat tentang kebaikan dan hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh anak. Maka kelompok ini dapat dikaitkan dengan penanaman sikap. Nasihatnasihat yang terkandung dalam syair antara lain mengajarkan anak harus sopan Revitalisasi Lagu Dolanan Anak … (Sutji Hartiningsih) 253 kepada orang tua atau tamu, membantu orang tua, kejujuran, tidak boleh malas, tidak boleh tidur sore hari, kedisiplinan, dan sebagainya.
Contoh pada syair lagu ”Ana Tamu” Bahasa Jawa Bahasa Indonesia E…e…e…e, ana tamu Mangga, mangga lenggah rumiyin Bapak nembe siram, ibu tindak peken. Mangga, mangga lenggah mriki E…e…e…e, ada tamu Silakan duduk dulu Ayah sedang mandi, ibu pergi ke pasar Silakan, silakan duduk di sini. Syair lagu di atas, mengajarkan etika seorang anak ketika menerima tamu harus ramah, tamunya dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu, sambil menunggu bapak yang sedang mandi dan ibu sedang pergi ke pasar. Jadi tamu tidak dibiarkan menunggu di luar rumah.
Lagu ini dapat dimasukkan dalam kelompok afektif atau sikap. Aspek Psikomotor dalam Lagu Dolanan Anak Adapun kelompok ketiga, yaitu lagu dolanan yang syairnya dinyanyikan sambil melakukan gerak-gerik yang sudah melekat dengan syair lagunya.
Lagu kelompok ini mengarah pada aspek psikomotor, seperti contoh syair lagu ”CublakCublak Suweng” Bahasa Jawa Bahasa Indonesia Cublak-cublak suweng Suwenge ting gerendhel Ana kebo nusu gudel Pak empo leralere Sapa sira ndhelikake Sir, sir pong dhele gosong Sir, sir pong dhele gosong. Meloncat anting/ subang Subangnya berserakan Ada kerbau menyusu pada anak kerbau Pak empo lera lere Siapa kamu yang menyembunyikan Sir, sir pong, kedelai gosong Sir, sir pong kedelai gosong
Syair Lagu di atas, mempunyai pesan moral, bahwa untuk mencari harta kebahagiaan sejati janganlah manusia menuruti hawa nafsunya sendiri atau serakah, tetapi semuanya kembalilah ke dalam hati nurani, sehingga harta kebahagiaan itu bisa meluber melimpah menjadi berkah bagi siapa saja. Ketiga kelompok lagu-lagu tersebut (kognitif, afektif, dan psikomotor), baik lagu yang tidak lengket dengan gerak maupun yang melekat dengan gerak dapat dipakai sebagai sarana bermain anak-anak.
Menyanyikan lagu dolanan anak tradisional, berarti anak-anak bermain sambil bernyanyi. Anak-anak menyukai lagu dolanan anak tradisional dikarenakan anak-anak adalah pembuat musik yang alami, bahkan dua orang tokoh musik dunia, Carl Orff dan Zoltan Koldaly memberikan pemikiran yang penuh dengan pertimbangan musik dalam perkembangan anak (Montolalu et al, 2008:3.22).
Pentingnya lagu dolanan dan dolanan anak tradisional diberikan kepada anak sejak dini, dikarenakan ada perbedaan yang mencolok antara anak yang biasa bermain dengan menyanyikan lagu dolanan anak tradisional dan yang lebih banyak bermain dengan alat modern.
Bentuk, Arti dan Makna dalam Lagu Dolanan Anak Lagu dolanan anak tradisional sepintas tersirat hanya melantunkan nada-nada, namun jika dikaji lebih dalam, lagu dolanan anak tradisional sarat pesan moral. Maka bermain yang dimaksud adalah menyanyikan lagu dolanan anak tradisional baik dengan gerak maupun tidak. Lagu dolanan anak tradisional merupakan lagu-lagu daerah yang biasa dinyanyikan oleh anak-anak untuk mengisi waktu di senja hari atau malam hari, antara lain lagu “Jaranan”, “CublakCublak Suweng”, dan “Kupu Kuwi”. Sebagian besar masyarakat Jawa yang masih menggunakan bahasa Jawa pasti kenal dan akrab dengan lagu dolanan anak tradisional. Apabila lagu tersebut dihayati, dapat dirasakan keindahan alaminya karena penceritaannya berkenaan langsung dengan keadaan alam.
Dengan demikian dolanan anak tradisional dengan lagu-lagunya sangat sarat dengan pendi-dikan secara langsung. Lagu dolanan anak tradisional secara sepintas tampak hanya untuk dinyanyikan sambil bermain, tetapi jika dikaji lebih dalam, mengandung pesan-pesan moral yang baik untuk pembentukan karakter anak. Lagu dolanan anak tradisional diyakini mampu memberikan pembelajaran untuk pembentukan karakter yang menyangkut nilai-nilai moral dan etika.
Lagu-lagu yang akan dibahas pada penelitian ini adalah lagu-lagu yang diambil dari perbendaharaan pengetahuan peneliti sendiri dan sering didendangkan oleh anak-anak ketika memainkan suatu permainan rakyat, juga dalam menganalisis lagu dolanan, dilakukan dengan lirik yang terdapat dalam lagu-lagu yang telah direkam dalam bentuk kaset atau compact disk (CD).
Pada kelompok permainan psikomotor lagu dolanan anak tradisional kebanyakan syair lagunya melekat dengan gerak permainan, artinya lagu tersebut memang dinyanyikan ketika anak melakukan permainan, atau dengan kata lain lagu sebagai pengiring.
Di antara sekian banyak lagu dolanan anak, misalnya ”Cublak-Cublak Suweng”, ”Ilir-Ilir”, ”Sluku-Sluku Bathok”, ”Padhang Bulan”, ”Dondhong Apa Salak”, ”Kupu Kuwi”, dan ”Kuwi Apa Kuwi”, berikut akan dibahas beberapa di antaranya. Tembang ”Cublak-Cublak Suweng” Bahasa Jawa Bahasa Indonesia Cublak-cublak suweng Suwenge ting gerendhel…. (meloncat anting/subang Subangnya bergantungan….
Lagu ”Cublak-Cublak Suweng” dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan karakter pada anak-anak, karena terkandung pesan moral kehidupan yang sangat bagus. Anak-anak dapat dikenalkan dengan sifat kejujuran dalam segala aspek kehidupan. Makna nilai jujur di sini adalah jujur dalam bertingkah laku dan jujur dalam pekerjaan.
Tembang ”Ilir-Ilir” Bahasa Jawa Bahasa Indonesia Lir ilir, lir ilir, tandure wus sumilir Taijo royo royo, ta senggoh …. Bangkitlah, bangkitlah, tanaman tlah bersemi Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, …. Makna yang terkandung dalam lagu tersebut berisikan nasihat atau petuah sang guru kepada murid-murid yang hendak menuntut di jalan Allah, mengharap keridaan Allah dengan tingkah laku yang baik, hati yang bersih, hingga mencapai kepada derajat yang diinginkan oleh sang guru. Seruan untuk bangkit adalah seruan kepada jiwa, akal, hati, untuk berdiri tegak memenuhi panggilan kerinduan, segera bergegas menuju kepada Allah.
Tembang ”Sluku-Sluku Bathok” Bahasa Jawa Bahasa Indonesia Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo Si Rama menyang Sala, oleh-olehe payung motha Mak jenthit lolo lobah, wong mati ora obah Nek obah medeni bocah, nek urip goleka dhuwit Ayun-ayun kepala, kepalanya gelenggeleng Si Bapak pergi ke Sala, oleh-olehnya payung mutha Secara tiba-tiba bergerak, orang mati tidak bergerak Kalau bergerak menakuti orang, kalau hidup carilah uang Lagu dolanan anak ”Sluku-Sluku Bathok” memiliki makna secara keseluruhan bahwa manusia secara fitrah dilahirkan ke dunia untuk bersyukur dan mengingat kepada Tuhan-Nya.
Bentuk ungkapan syukur diwujudkan dengan beribadah dan bertakwa kepada-Nya. Selain itu, secara kodrati manusia berkewajiban untuk mencari nafkah untuk keluarga dan jalan beribadah Tembang ”Padhang Bulan” Bahasa Jawa Bahasa Indonesia Yo prakanca dolanan ing njaba Padhang mbulan padhange kaya rina Rembulane’ kang ngawe’-awe’ Ngelikake’ aja turu sore’-sore’ Ayo teman-teman bermain diluar cahaya bulan yang terang benderang rembulan yang seakan-akan melambaikan tangan mengingatkan kepada kita untuk tidak tidur sore-sore.
Secara keseluruhan makna dalam lagu ini, adalah mengajarkan manusia untuk bersyukur atas karunia Tuhan dengan jalan menjalankan ibadah dengan baik. Karunia Tuhan yang begitu besar dan sangat bermanfaat bagi sumber kehidupan manusia mestinya menjadi bahan perenungan manusia untuk selalu ingat kepada-Nya.
Tembang ”Dondhong Apa Salak” Bahasa Jawa Bahasa Indonesia Dhondhong apa salak dhuku cilik-cilik gendong apa mbecak mlaku thimik thimik …. Kedondong atau salak, duku kecil-kecil Digendong apa naik becak, jalan pelanpelan … Makna yang terkandung dalam lagu ”Dhondhong Apa Salak”, mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berbuat baik, dan tidak menyakiti orang lain baik secara lahir maupun batin. Selain itu juga mengajarkan sifat kemandirian, tidak bergantung pada bantuan orang lain, bagaimanapun lemahnya kemampuan kita.
Di sini kita dihadapkan pada dua karakter, lebih baik kita berbuat yang baik secara lahir maupun batin seperti buah duku, daripada kita berbuat yang dari luar kelihatan bagus tetapi di dalamnya kasar dan tajam seperti buah kedondong. Tembang ”Kupu Kuwi” Bahasa Jawa Bahasa Indonesia Kupu kuwi tak encupe mung abure ngewuhake Ngalor, ngidul ngetan bali ngulon. Mrana-mrene mung saparan-paran Mbokya mencok tak encupne Mentas mencok cegrok banjur mabur kleper Kupu kuwi tak encupe. Kupu itu akan saya pegang ”hanya terbangnya sulit” ”utara, selatan, timur, kembali ke barat” ”kesana–kemari menurut kehendak sendiri” semoga hinggap akan kupegang. Baru saja hinggap terbang lagi. Kupu itu akan saya pegang.
Makna lagu kupu kuwi secara keseluruhan yaitu kupu mempunyai berbagai macam keindahan yang tercermin pada warna kupu-kupu, hal ini dapat menggambarkan suatu kebahagiaan yang dapat menarik hati manusia untuk memilikinya. Manusia ingin mengharapkan kebahagiaan, karena semua manusia pasti menginginkan kebahagiaan. Tembang ”Kuwi Apa Kuwi” Bahasa Jawa Bahasa Indonesia Kuwi apa kuwi, e kembange mlati Yen tak puja puji aja dha korupsi Marga yen korupsi negarane rugi Piye mas piye, ojo ngono, ngono, ngono kuwi Itu apa itu, e bunga melati Jika saya pujapuji, janganlah korupsi Sebab jika korupsi, negaranya rugi Bagaimana kak, bagaimana Jangan begitu, begitu, begitu… itu… Di dalam lagu ini, pendidikan kejujuran, anti korupsi, membangun karakter terpuji, membangun budaya malu nampak jelas pada lagu ”Kuwi Apa Kuwi”.
Bunga melati bisa diartikan sebagai para pejabat, sebab melati merupakan salah satu pangkat perwira tinggi. Jadi, jika menjadi pejabat cintailah rakyat, jangan korupsi yang dapat merugikan negara. Jadi, sekali lagi janganlah korupsi! Nilai Kearifan Lokal dalam Lirik atau Syair Lagu Dolanan Anak Jawa Lagu dolanan anak Jawa sebagai salah satu wujud budaya yang adiluhung dijadikan sarana menyampaikan ajaran pada anak.
Lagu dolanan pada masyarakat Jawa mengandung ajaran tentang perilaku luhur yang dapat digunakan sebagai sarana membentuk perilaku pada anak. Lingkungan di sekitarnya juga berperan penting dalam pembentukan perilaku tersebut, sesuai dengan yang diungkapkan oleh Suyatno (2005:14) bahwa permainan jika dimanfaatkan secara baik, dapat memberikan dampak yang positif dalam mendidik anak.
Syair lagu dolanan anak Jawa sepintas tersirat hanya melantunkan nada-nada, namun jika dikaji lebih dalam, syair lagu dolanan anak sarat pesan moral. Maka bermain yang dimaksud adalah menyanyikan lagu dolanan anak Jawa baik dengan gerak maupun tidak. Bermain merupakan sumber belajar alami yang penting bagi anak.
Menyanyikan lagu dolanan anak Jawa, berarti anak-anak bermain sambil bernyanyi. Adapun unsur positif dari penggunaan permainan dalam mendidik anak, antara lain: 1. Menyingkirkan keseriusan yang menghambat 2. Menghilangkan stress dalam lingkungan belajar 3. Mengajak orang lain terlibat penuh 4. Meningkatkan proses belajar 5. Membangun kreatifitas diri 6. Mencapai tujuan dengan kesenangan 7. Meraih makna belajar melalui pengalaman 8. Memfokuskan siswa sebagai sumber belajar.
Lebih lanjut Suyatno (2005:15) menyebutkan bahwa rambu-rambu agar permainan dapat menjadi efektif dan mempunyai nilai tambah dalam mendidik anak, yaitu permainan harus terkait langsung dengan tempat belajar Permainan harus dikemas agar dapat mengajari pembelajar berfikir, mengakses informasi, bereaksi, memahami, berkembang, dan menciptakan nilai nyata bagi siswa a. Permainan harus memberi kebebasan kepada siswa untuk bekerjasama dan berkreasi b. Permainan harus menarik dan menantang, namun jangan sampai membuat siswa kecewa dan kehilangan akal c. Permainan harus menyediakan waktu yang cukup untuk merenung, memberi umpan balik, berdialog dan berintergrasi dengan siswa. d. Permainan hendaklah sangat menyenangkan dan mengasyikkan, namun jangan sampai membuat siswa tampak bodoh dan dangkal.
Pesan-pesan yang disampaikan dalam lagu dolanan Jawa yang telah diuraikan di atas, dapat disampaikan bahwa lagu dolanan pada umumnya memiliki ciri-ciri (1) bahasanya sederhana, (2) mengandung nilai-nilai estetis, (3) jumlah barisnya terbatas, (4) berisi hal-hal yang selaras dengan keadaan anak, (5) lirik dalam lagu dolanan menyiratkan makna religius, kebersamaan, keberanian, sprotif, kasih sayang, tanggung jawab, rendah hati, penghargaan terhadap alam semesta dan nilai-nilai sosial lainnya. Lagu dolanan sebagai seni tradisional yang amat dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa, justru semakin berkurang peminatnya.
Banyak kesenian modern yang jadi pilihan generasi muda yang dapat menghibur dengan menggunakan teknologi canggih. Karya seni lokal telah dikesampingkan karena dianggap kuno (hasil wawancara mendalam dengan Sugeng, pengajar karawitan di Sidoarjo). Faktor lain yang mempengaruhi kurangnya minat generasi muda pada seni budaya lokal adalah kurang menariknya kemasan dan proses sosialisasi oleh generasi sebelumnya (hasil wawancara mendalam dengan Suwarno, pengamat pentas seni di Sidoarjo)
Sumber : http://atavisme.kemdikbud.go.id/index.php/atavisme/article/view/119