Katarsis Emosi Apa Makna Sesungguhnya?

Katarsis Emosi Apa Makna Sesungguhnya?

Katarsis emosi berkaitan dengan pengendalian sistem energi yang timbul ketika seseorang sedang emosi. Pembersihan sistem energi yang terjadi apabila ekspresi emosi dikendalikan dikenal sebagai “‘katarsis emosi.” Apabila energi fisik yang dibina untuk persiapan bertindak tidak dilepaskan, keseimbangan tubuh akan terganggu. Demikian pula halnya, apabila keadaan mental yang menyertai emosi tidak ditangani secara tepat. Hal itu akan menimbulkan sikap yang tidak menyenangkan sehingga penyesuaian pribadi dan sosial anak kurang baik. Ketika tubuh disiapkan untuk bertindak, maka emosi yang ditimbulkan, apakah itu berupa kecemasan, kecemburuan, atau permusuhan, dapat memperlama goncangan fisik. Hal itu akan memperlama pula kekacauan mental. Akibatnya, terdapat lingkaran hubungan sebab akibat yang tidak ada hentinya sampai dilakukan sesuatu untuk mengakhirinya.

baca juga : Metode Belajar Yang Menunjang Perkembangan Emosi

Kebutuhan yang terhalang harus dipenuhi, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Jika anak tidak dapat menggunakan energi itu sepenuhnya dalam ekspresi emosi yang langsung, mereka harus membuangnya dengan cara yang tidak langsung. Kebutuhan untuk membersihkan tubuh dari energi emosional yang terkurung sudah dikenal pada zaman Hippocrates pada masa Yunani Kuno, dalam abad keempat Sebelum Masehi. Akan tetapi, bahwa kebutuhan untuk katarsis emosi juga berla ku untuk jiwa belum diketahui sampai sekitar pergantian abad ini.

Esensi Katarsis Emosi

Sekedar membiarkan keluarnya energi emosional mungkin dapat membebaskan sistem energi fisik yang berlebihan untuk sementara, tetapi belum tentu dapat mengubah pandangan anak atau meng hilangkan sumber kerusuhan emosi. Prinsip yang asasi dalam psikoterapi memberikan petunjuk bagaimana seseorang dapat mencapai katarsis emosi yang sekaligus membersihkan tubuh dan jiwa. Caranya adalah dengan mengangkat sebab yang terpendam dari gangguan emosional ke permukaan. Selain itu juga menganalisisnya, mengujinya dengan kenyataan (reality testing) untuk mengetahui sejauh mana kebenarannya. Terakhir, mencari cara yang memuaskan untuk mengekspresikan dorongan yang telah terhalangi sehingga anak akan meng ubah sikap mereka. Anak juga akan mengembangkan pandangan yang lebih menyeluruh.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *