Teori Behaviorisme Pertumbuhan dan Perkembangan

Teori Behaviorisme Pertumbuhan dan Perkembangan

Postingan ini membahas tentang Teori Behaviorisme Pertumbuhan dan Perkembangan. Materi ini di ambil dari buku Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini yang di tulis oleh Dr. Yuliani Nurani Sujiono, M.Pd

Teori Behaviorisme

Teori behaviorisme pertumbuhan dan perkembangan merujuk pada Brewer (2007:33-34) Watson, Thorndike, dan Skinner adalah tokoh behaviorisme yang terkenal. Setiap ahli yang menganut teori ini percaya bahwa perilaku dapat dibentuk dengan memberikan jawaban dalam bentuk kata-kata ataupun tindakan tertentu. Skinner, termasuk ke dalam aliran behaviorisme modern yang menulis secara ekstensif tentang anak yang dikendalikan dengan suatu sistem dari penghargaan dan hukuman. Skinner dalam Nixon dan Gould (1999:13) identik dengan teori stimulus-respons dan operant conditioning. Unsur-unsur dasar dari teori stimulus-respons meliputi bala bantuan, hukuman, operant conditioning, dan mengurangi perilaku yang tidak baik.

Operant conditioning berbeda dengan classical conditioning dalam arti bahwa perilaku sudah mendahului penguatan tersebut. Sebagai contoh, seekor merpati sedang belajar untuk mendorong sebuah pengungkit untuk mendapatkan sebutir atau satu buah pil makanan. Memperkenalkan suatu tanggapan hingga batas tertentu, penghargaan dapat menyediakan suatu penguatan yang positif dari perilaku itu. Jika lantai dari sangkar merpati dialiri listrik dan apabila dengan mendorong pengungkit listrik itu dapat dihentikan, maka merpati akan belajar untuk menekan pengungkit tersebut untuk menghindari stimulus yang tidak enak; hal ini adalah penguatan yang negatif. Penguatan yang negatif juga dapat digunakan. Seekor merpati boleh jadi dihukum oleh suatu goncangan yang elektris karena tidak berhasil untuk mendorong suatu pengungkit.

operant conditioning

Dalam suatu kelas, operant conditioning boleh jadi digunakan untuk sebagai suatu bentuk pencapaian anak-anak terhadap suatu tugas yang bersifat akademis. Sebagai contoh, di kelas dua sekolah dasar diberikan suatu tugas di mana mereka harus mengerjakan tugas. Anak yang sudah menyelesaikan tugas dengan cepat dan tepat akan mendapatkan token dengan nilai tertentu, yang dapat ditebus untuk hal-hal tertentu yang ada di dalam atau di luar kelas (seperti mainan, buku-buku). Sedangkan bagi anak-anak yang tidak dapat menyelesaikan tugas yang diberikan guru dengan cepat dan tepat, guru boleh menggunakan salah satu dari beberapa pendekatan yang ada untuk mengatasi masalah ini.

Jika guru mengetahui bahwa ada tiga orang anak yang belum pernah menyelesaikan tugas yang diberikan. Maka guru boleh memilih untuk memberi penghargaan atas usaha mereka yang sudah menyelesaikan soal yang diberikan lebih baik dari hari-hari yang sebelumnya. Guru boleh memilih untuk memberikan penguatan yang positif maupun yang negatif kepada mereka. Jika ia percaya bahwa ada beberapa anak-anak yang dengan bebas tidak berusaha mencoba untuk menyelesaikan beberapa tugas beberapa alasan lain. Mungkin akan menghukum mereka dengan mengurangi waktu istirahat mereka.

baca juga  : Hakikat Perkembangan Anak Usia Dini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *