Rasa Cemburu pada Anak, Normalkah?

Rasa Cemburu pada Anak, Normalkah?

Rasa cemburu adalah reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata, dibayangkan, ancaman kehilangan kasih sayang. Rasa cemburu timbul dari kemarahan yang menimbulkan sikap jengkel dan ditujukan kepada orang lain. Pola rasa cemburu seringkali berasal dari rasa takut yang dikombinasikan dengan rasa marah. Orang yang cemburu merasa tidak tenteram dalam hubungannya dengan orang yang dicintai dan takut kehilangan status dalam hubungan kasih sayang itu.

3 sumber utama rasa cemburu anak

Situasi yang menimbulkan rasa cemburu selalu merupakan situasi sosial. Ada tiga sumber utama yang menimbulkan rasa cemburu, dan kadar penting masingmasing sumber bervariasi menuruttingkatan umur. Pertama, rasa cemburu pada masa kanak-kanak umumnya ditumbuhkan di rumah. Artinya timbul dari kondisi yang ada di lingkungan rumah. Karena bayi yang baru lahir meminta banyak waktu dan perhatian ibu maka anak yang lebih tua menjadi terbiasa menerima rasa diabaikan. Kemudian ia merasa sakit hati terhadap adik yang baru dan ibu.

Sikap pilih kasih orang tua juga menimbulkan reaksi serupa. Tanpa disadari, banyak orang tua menunjukkan perhatian yang tidak sewarjanya kepada seorang anak yang secara kebetulan paling menarik, penuh kasih sayang, dan berbakat. Ada kemungkinan juga bahwa anak yang paling disayangi merupakan anak yang – atau cacat. Yang paling sering terjadi adalah pilih kasih orang tua berdasarkan jenis kelamin. Para ayah umumnya menyatakan menghendaki anak laki-laki, tetapi mereka biasanya lebih lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap anak perempuan. Para ibu umumnya lebih menyukai anak laki-laki dan bersikap lebih lemah lembut terhadap mereka. Anak yang tidak terpilih cepat merasakan perlakuan yang tidak adil ini dan merasa sakit hati. Hal ini akan diperbincangkan di dalam bab tentang hubungan keluarga.

baca juga : Metode Belajar Yang Menunjang Perkembangan Emosi

Kedua,situasi sosial di sekolah juga merupakan sumber pelbagai kecemburuan bagi anak-anak yang berusia lebih tua. Kecemburuan yang berasal dari rumah sering dibawa ke sekolah dan mengakibatkan anak-anak memandang setiap orang di sana. Juga para guru atau teman sekelas dapat dianggap sebagai ancaman bagi keamanan mereka. Untuk melindungi keamanan mereka, anak-anak kemudian mengembangkan sikap kepemilikan terhadap guru atau teman sekelas yang mereka pilih sebagai teman. Mereka akan marah apabila orang yang dianggap sebagai miliknya itu memperlihatkan perhatian kepada orang lain.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *