Ketika Imam Abu Hanifah Mematuhi Ucapan Tukang Cukur

Ketika Imam Abu Hanifah Mematuhi Ucapan Tukang Cukur

Sudah menjadi kebiasaan umum, bahwa orang suka patuh kepada nasehat atau ucapan orang lain yg mempunyai tingkat dan kedudukan yg lebih tinggi daripadanya, baik dalam keilmuan, jabatan, kehormatan ataupun lainnya. Padahal sebenarnya, kita harus menilai ucapan itu dari isi ucapan itu sendiri dan bukan dari siapa yg mengucapkannya.

Berkaitan dengan ini, sahabat Ali bin Abi Thalib k.w. pernah menyeru sebagai berikut : انظر الى ماقال، ولا تنظر الى من قال. “Lihat/perhatikanlah pada apa yg diucapkan, dan jangan melihat siapa yg mengucapkannya”. Patuh kepada ucapan yg benar dan tidak memandang siapa yg mengucapkan.

Abu Hanifah, seorang ulama besar pendiri madzhab Hanafi. Ia bercerita, pernah melakukan lima kesalahan menyangkut soal haji di Makkah, tetapi kemudian ia ditegur dan diajari oleh tukang cukur. Ketika itu, Abu Hanifah yg selesai melaksanakan ibadah haji, ingin bertahallul, yakni melakukan ritual penutup ibadah Haji atau Umrah, dimana setelah selesai Tahallul itu, selesailah ibadah haji atau umroh seseorang.

Untuk itu, beliau mendatangi seorang tukang cukur untuk memotong rambut kepalanya. “Berapa ongkosnya?” Tanya Abu Hanifah. “Sebenarnya, itu dalam ibadah tidak menjadi kewajiban, silakan duduk, dan berikan ongkosnya semau anda”. Kata tukang cukur ygyang tidak mengenal siapa orang yg datang itu.

Dengan perasaan malu, Abu Hanifah duduk, tetapi membelakangi kiblat. Kemudian tukang cukur menegurnya: “Duduklah menghadap ke kiblat”. Katanya. Betapa malunya imam Hanafi mendapat teguran itu, namun ia sadar bhw kebenaran tak pandang dari siapa orangnya, meskipun dia cuma seorang tukang cukur.

Kemudian dia menyorongkan bagian kiri kepalanya utk dipotong rambutnya Tukang cukur itu pun menegur lagi: “Putarlah kearah kanan, karena yang demikian lebih baik”. Katanya. Dengan taat, imam Hanafi menyodorkan kepala bagian kanan untuk dipotong rambutnya sebelah kanan dahulu. Kpd tukang cukur ini, ulama besar itu tidak bisa berkutik. Dia malu karena diperingatkan oleh si tukang cukur.

Usai dipotong rambutnya, imam Hanafi berdiri meninggalkannya. Mau kemana anda?” Tanya tukang cukur itu lagi. ” Akan meneruskan perjalanan. Jawabnya. “Shalatlah dulu dua rakaat, baru teruskan perjalanan anda”. Maka dipatuhilah perintah tukang cukur itu dengan shalat dua rakaat. “Tak mungkin seorang tukang cukur bisa begitu, kecuali dia seorang yg berilmu”, pikir Abu Hanifah.

Dengan memberanikan diri, akhirnya Abu Hanifah bertanya “Dari mana kau peroleh ilmu itu?”. “Ilmu Allah itu aku peroleh dari Atha bin Abi Rabah”. Katanya. Atha bin Abi Rabah (w. 114 H.) adalah bekas budak berkulit hitam legam dan berbibir tebal keturunan Habasyah (Ethiopia), yang menjadi ahli fiqih, tafsir dan perawi hadis, namun sangat dihormati karena ilmunya.

Dia adalah ulama Hijaz yg tinggal di masjidil Haram dan berhak memberi fatwa di Masjidil Haram. Mulanya ia adalah budak dari seorang wanita bernama Habibah binti Maesarah. Ketika si pemilik badak ini melihat budaknya itu mempunyai semangat yang tinggi dlm menuntut ilmu, maka iapun berinisiatif untuk memerdekakannya. Kemudian setelah menjadi merdeka, Atha berguru kepada para sahabat-sahabat utama seperti Abi Hurairah, Ibnu Abbas dan lain-lain.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *