Faktor pematangan dan faktor belajar keduaduanya mempengaruhi perkembangan emosi. Tetapi faktor belajar lebih penting karena belajar merupakan faktor yang lebih dapat dikendalikan. Faktor pematangan juga agak dapat dikendalikan. Tetapi hanya dengan cara mempengaruhi kesehatan fisik dan memelihara keseimbangan tubuh. Yaitu melalui pengendalian kelenjar yang sekresinya digerakkan oleh emosi. Sebaliknya, terdapat berbagai cara untuk mengendalikan lingkungan untuk menjamin pembinaan pola emosi yang diinginkan.
Dan dengan bantuan ahli untuk menghilangkan pola reaksi emosional yang tak diinginkan sebelum berkembang menjadi kebiasaan yang tertanam kuat. Sebagai contoh, telah ditemukan bahwa perubahan lingkungan yang mendadak dapat mempengaruhi emosi anak. Anak yang’sudah terbiasa dengan ibu yang memberi perhatian penuh dapat mendendam kepada ibunya yang sangat memperhatikan adiknya yang baru lahir. Dan mungkin mengungkapkan kemarahan dan kecemburuan dengan luapan emosi berulang kali dan kuat. Hal ini dapat dicegah dengan mengkaji masalahnya sehingga anak memperoleh bagian perhatian yang adil dari ibunya.
baca juga : Bahasa dan Pemahaman Emosi Kanak-kanak
Melalui ajaran dan bimbingan,anak dapat dibantu memahami mengapa ada saatnya bayi memerlukan waktu sang ibu. Dan anak tersebut, sekali lagi melalui manipulasi lingkungan, dapat diberi perhatian tambahan apabila ibusedang tidak menjaga bayinya.pengendal ian pola belajar adalah positif dan sekaligus merupakan tindakan preventif. Hal ini karena apabila reaksi emosional yang tidak diinginkan dipelajari dan menghablur ke dalam pola emosi anak. Bahkan mungkin reaksi akan tertanam kuat di masa dewasa dan untuk mengubahnya diperlukan bantuan ahli. Oleh sebab itu, masa kanak-kanak disebut sebagai’periode kritis” dalam perkembangan emosi.
Ciri khas emosi anak
Karena pengaruh faktor pematangan dan faktor belajar terhadap perkembangan emosi, maka dapat dipahami bahwa emosi anak kecil seringkali sangat berbeda dari emosi anak yang lebih tua atau orang dewasa. Orang dewasa yang belum memahami hal ini cenderung menganggap anak kecil sebagai “tidak matang.” Sebetulnya tidak logis jika kita mnuntut agar semua anak pada usia tertentu mempunyai pola emosi yang sama. Perbedaan individual tidak dapat dielakkan karena adanya perbedaan taraf pematangan dan kesempatan belajar. Terlepas dari adanya perbedaan individu, ciri khas emosi anak membuatnya berbeda dari emosi dengan orang dewasa.