Stereotip Gender Pembelajaran Seni Tari

Stereotip Gender Pembelajaran Seni Tari

Stereotip gender dari konstruksi sifat kelaki-lakian atau kewanitaandalam berbagi budaya atau kelompok sosial, menurut Soetedja (2007), dapat mempengaruhi aneka pilihan anak, sikap, perspektit, dan keikutsertaan dalam aktivitas seni. Akses untuk keikutsertaan di dalam seni dimaksimalkan ketika pemilihan konsep, konteks, isi, dan aktivitas pelajaran mengakomodasi gaya belajar, minat, dan pengalaman disediakan bagi senmua anak, baik laki-laki maupun perempuan.

baca juga : Perkembangan Bahasa AUD dan Seni Tari

Dalam hal ini, para guru harus hati-hati supaya tidak memaksakan kegiatan yang sama bagi anak laki-laki dan perempuan. Karakteristik biologis mungkin mendorong anak untuk lebih menyukai aktivitas seni tertentu. Dalam hal ini, harus dipahami bahwa perbedaan materi tari tersebut, bukan berarti membedakan antara siswa putra dan putri. Akan tetapi, lebih kepada menyesuaikan karakter dan kebutuhan anak itu sendiri. Karena tidak mungkin, anak laki-laki belajar tari yang gerakannya lemah gemulai, dan juga sebaliknya tidak mungkin pula anak belajar tari yang gerakannya gagah berani, layaknya seorang laki-laki.

Dalam hal ini, materi gerakan tari disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter anak.Akan tetapi, ada satu waktu untuk para siswa putra dan putri bisa belajar tari bersama, yaitu ketika latihan tari kelompok atau tari berpasangan. Materi gerakannya pun, tentunya dipilih dan disesuaikan agar gerakan tersebut pas jika diperagakan oleh anak putra dan putri. Gerakan dalam tari kelompok atau berpasangan, dipilih gerakan yang umum, artinya bisa bisa digunakan untuk siswa putra dan putri secara bersamaan seperti tari cepat cepit asli Banyumas, tari padang wulan, dantari gembira.

Pada prinsipnya, dalam pembelajaran seni tari di lembaga PAUD,untuk putra dan putri tidak ada yang berbeda. Adapun adanya perbedaan dalam materi gerakan tari, lebih menekankan kepada penanaman karakter anak sejak dini. Hal ini karena menurut para pakar, kesenian (termasuk seni tari) adalah alat yang ampuh dalam mengembangkan pikiran, Bahasa lisan dan tulisan, dan cara anak-anak mengetahui dan memahami diri dan dunia mereka (Seefeldt & Wasik, 2008). Dengan belajar tari satria atau tari perang bagi siswa putra, yangmateri gerakannya penuh dengan tenaga, semangat, keberanian, maka akan membuat anak, akan lebih mengetahui dan mengembangkan karakter sebagai seorang anak laki-laki yang harus berani, bertanggungjawab, dan penuh dengan semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Bagitu halnya dengan belajar tari ular bagi siswa putri. Bukan berarti  mengajarkan anak untuk lemah dan tidak berdaya dalam menghadapimasalah. Akan tetapi, lebih menekankan kepada karakter seorang perempuan yang harus lembut, hangat, penuh dengan perasaan kasih Sayang, karena bagaimanapun di masa mendatang mereka adalah calon ibu. Dengan demikian, materi pembelajaran tari juga harus memperhatikan karakter dasar dan kebutuhan anak itu sendiri.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *